![]() |
| Foto: Jamuan Makan Malam Peserta Munas XVIII FKMPI di Rumah Dinas Walikota Medan,Kamis(17/9) |
Walikota Medan Rico Waas mengajak mahasiswa politeknik dari berbagai daerah di Indonesia menjadikan kampus sebagai ruang untuk melakukan riset dan menciptakan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.Dunia kampus memiliki kesempatan besar untuk melahirkan inovasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pesan itu disampaikan Rico saat menjamu peserta Musyawarah Nasional (Munas) Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia (FKMPI) XXVII di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Kamis (17/9) malam.
Jamuan tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal FKMPI Muhammad Iqbaal, Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Medan Muhammad Ahmad Arya Attallah,Ketua Pelaksana Munas FKMPI Moreno Aulya Septyawan, para asisten dan pimpinan perangkat daerah Pemko Medan, serta seluruh peserta Munas FKMPI XXVII.
Rico kemudian mengangkat persoalan persampahan di Medan sebagai salah satu contoh. Menurutnya, produksi sampah di Medan mencapai lebih dari 1.500 ton per hari. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan dari hulu hingga hilir, termasuk pengurangan dan pemilahan sampah.
Pemko Medan, lanjutnya, juga tengah menyiapkan pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Terjun. Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan mulai dikick-off pada akhir 2026 dan diharapkan dapat diluncurkan pada akhir 2027.
Selain persampahan, Rico Waas juga mendorong mahasiswa mengikuti perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Sekarang siapkan diri, siapkan materi pembelajarannya, dan apa yang harus dilakukan. Bagaimana memfasilitasi artificial intelligence tadi ke dalam program-program terbaru,” katanya.
Di hadapan peserta Munas FKMPI XXVII, Rico berharap forum tersebut tidak berhenti pada proses organisasi, tetapi menghasilkan gagasan dan pengalaman yang dapat dibawa pulang oleh setiap peserta ke daerah masing-masing.
“Jangan nanti kopi sudah habis, sate Padang sudah habis, durian sudah tersisa tinggal biji-bijinya, Bikau .Ambon sudah tidak ada lagi, tapi bawa pulangnya tidak ada yang dibawa pulang,” ucapnya seraya berharap peserta membawa pulang pelajaran, wawasan dan motivasi untuk membangun diri serta berkontribusi di daerah masing-masing.Rumapea/Redaksi
