PMKRI Medan Bantu Pembelajaran Anak-Anak Pinggiran Rel di Sei Agul: Ibu - Ibu Dibekali Cara Buat Sabun Cuci....

 

Medan,DP News

Sebagai bentuk kepedulian terhadap para anak usia sekolah ditengah pandemi Covid-19,PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Cabang Medan mengadakan pendidikan gratis kepada anak-anak pinggiran rel di Jalan Orde Baru, Kelurahan Sei Agul ,Kecamatan Medan Barat.

"Ini bentuk kepedulian kita terhadap para anak usia sekolah.Kami sebagai mahasiswa dan kader organisasi harus turut andil memberikan pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan," kata Cepreanus Gea,Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan,Minggu(11/4).

Berbagai kegiatan dilakukan agar anak anak di bawah usia 12 tahun tetap semangat belajar walau sudah cukup lama belajar Daring.Mulai dari belajar membaca,menulis,berhitung dan mewarnai gambar.

Meski dengan penuh keterbatasan,para mahasiswa berusaha menarik minat para anak didik.Dan anak-anak pun dengan antusias dan semangat mengikuti pembelajaran singkat tersebut. 

Selain membantu para anak usia sekolah dirangkaikan dengan mengajari para ibu ibu bagaimana cara  membuat sabun cuci piring dengan bahan dan alat yang murah, lebih sederhana dan praktis. Sabun cuci piring yang sudah  jadi nantinya akan dibagikan secara gratis kepada orang tua siswa.

"Masih hari ini kami melakukan kegiatan disini, tetapi kami berkomitmen akan melakukan kegiatan ini sampai seterusnya," kata Mega Nadeak sebagai Koordinator kegiatan tersebut.

Mereka memilih lokasi Jalan Orde Baru karena dari beberapa survei yang mereka lakukan tempat itu yang paling menarik karena banyak anak-anak yang putus sekolah dan lokasinya berada di pinggir rel kereta api.

"Kami memilih lokasi ini karena dari beberapa survei yang telah kami lakukan lokasi di sini merupakan yang paling menarik karena banyak anak-anak yang putus sekolah dan warga juga menerima dengan baik," kata Mega.

Mereka juga ingin mengubah pola pikir yang terbentuk pada anak-anak yang ada di lingkungan ini, mereka ingin anak tidak berpikir hanya untuk uang.

"Waktu pertama kemarin ke sini anak-anak kalau disuruh mengerjakan sesuatu langsung minta uang. Jadi pola pikir itu yang akan kita perbaiki sedikit demi sedikit," kata Cepereanus.

Liska Simanungkalit orang tua siswa yang hadir mendampingi anaknya belajar di tempat itu mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia itu adalah kegiatan yang sangat positif dan harus didukung agar tetap berjalan dengan baik dan bisa mengarahkan anak-anak untuk lebih memakai waktu untuk belajar.

"Saya merasa senang ada yang mengajari anak-anak. Kalau ada yang mengajari kan waktunya untuk bermain pasti makin sedikit," kata Liska.

Tantangan bagi para mahasiswa sendiri sebenarnya tidak mudah. Rata-rata mereka anak kos yang berasal dari luar kota Medan. Untuk uang makan dan uang kuliah mereka masih bergantung pada orangtua. Mereka harus mampu membagi uang tersebut untuk biaya perjalanan dan membeli alat-alat tulis dan gambar yang akan digunakan para siswa.

"Untuk menjalankan kegiatan harus pintar-pintarlah melihat kondisi"kata Cepreanus Gea sembari menutup pembicaraan.(hot/rd)