Notification

×

Iklan

Iklan

Sampai Mei,Danau Toba dan Pulau Samosir 142 Kali Diguncang Gempa: Butuh Mikrozonasi Gempa...

15 Juni 2022
Foto: Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (Puslitbang BMKG) Kunjungan Kerja di Samosir,Rabu(15/6)/Henry
Samosir,DP News


Kawasan Pulau Samosir dan Danau Toba yang berada di jalur sesar Sumatera yang masih aktif, tentu memiliki potensi kerawanan gempa. BMKB mencatat selama periode Januari - Mei 2021, Danau Toba dan Pulau Samosir pernah diguncang gempa sebanyak 142 kali.Untuk itu perlu mikrozonasi bahaya gempa bumi di Kabupaten Samosir. 


Plt. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Dr. Supriyanto Rohadi, M.Si menjelaskan mikrozonasi ini dilakukan dengan tujuan memetakan daerah berdasarkan lapisan batuan, melakukan analisis tingkat bahaya di Samosir berdasarkan analisis data microtremor dan alat lainnya.


Hal itu terungkap saat Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (Puslitbang BMKG) kunjungan kerja di Kabupaten Samosir. Kunjungan kerja ini sekaligus memaparkan kajian Mikrozonasi Bahaya Gempa Bumi di Kabupaten Samosir,Rabu (15/6). 


Pj. Sekda Hotraja Sitanggang, ST, MM mengatakan, berdasarkan penelitian bahwa Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu, kemudian membentuk kaldera dan di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir. Berdasarkan para ahli juga diyakini bahwa kawasan kaldera Toba akan terus mengalami siklus geologi yang sangat panjang.


Melalui pertemuan ini, Sekda berharap akan membangun pemahaman terhadap potensi gempa di Kabupaten Samosir sehingga masyarakat mengerti dan bisa menyesuaikan diri nantinya. Disamping itu juga, data kajian yang akan disampaikan oleh BMKG akan menjadi dasar dan data penting dalam penyusunan RTRW Kabupaten Samosir ke

depan.


Sementara Supriyanto mengatakan bahwa Indonesia rawan bencana, karena Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda. Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu.


"Mikrozonasi ini bisa memberikan informasi zona-zona yang mempunyai potensi berdampak dan zona relatif aman akibat ancaman bahaya gempa bumi (Getaran gempa bumi) yang disajikan dalam bentuk informasi spasial (ruang) dengan skala mikro atau kecil" katanya.(Henry/

×
Berita Terbaru Update