Jakarta,DP News
Presiden Joko Widodo (Jokowi)
menyatakan kebijakan anggaran di tahun 2020 bersifat ekspansif, terukur, dan
terarah. Dia mengatakan, defisit anggaran akan dibiayai dengan memanfaatkan
sumber-sumber pembiayaan yang aman dan dikelola hati-hati.
Soal utang, Jokowi menuturkan akan dikelola dengan mengkombinasikan instrumen yang efisien.
"Utang dikelola melalui kombinasi instrumen yang efisien, di antaranya dengan mempertimbangkan faktor risiko, serta pemanfaatannya secara lebih produktif," kata Jokowi dalam Pidato Nota Keuangan 2020 di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8).
Soal utang, Jokowi menuturkan akan dikelola dengan mengkombinasikan instrumen yang efisien.
"Utang dikelola melalui kombinasi instrumen yang efisien, di antaranya dengan mempertimbangkan faktor risiko, serta pemanfaatannya secara lebih produktif," kata Jokowi dalam Pidato Nota Keuangan 2020 di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8).
Jokowi melanjutkan, utang akan
dimanfaatkan untuk program pembangunan seperti di bidang pendidikan, kesehatan,
perlindungan sosial, infrastruktur, maupun pertahanan, dan keamanan.
"Pembiayaan yang kreatif untuk akselerasi pembangunan infrastruktur juga dilakukan dengan memberdayakan peran swasta, melalui skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)," tambahnya.
"Pembiayaan yang kreatif untuk akselerasi pembangunan infrastruktur juga dilakukan dengan memberdayakan peran swasta, melalui skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)," tambahnya.
Lanjut Jokowi, pemerintah mengelola fiskal
dengan hati-hati. Lalu, defisit anggaran dan rasio utang terhadap PDB tetap
dikendalikan dalam batas aman, di bawah tingkat yang diatur dalam UU Keuangan
Negara. Sekaligus, untuk mendorong keseimbangan primer menuju positif.
"Upaya tersebut ditunjukkan dengan diturunkannya defisit anggaran dari 2,59% terhadap PDB pada tahun 2015, menjadi sekitar 1,93% pada tahun 2019 dan pada tahun 2020 diturunkan lagi menjadi 1,76%," katanya.
"Sejalan dengan itu, defisit keseimbangan primer juga dipersempit dari Rp 142,5 triliun pada tahun 2015, menjadi sekitar Rp 34,7 triliun pada tahun 2019, dan diupayakan lebih rendah lagi menjadi Rp 12,0 triliun pada tahun 2020," imbuh mantan Wali Kota Solo tersebut.
(detikcom/Rd)
"Upaya tersebut ditunjukkan dengan diturunkannya defisit anggaran dari 2,59% terhadap PDB pada tahun 2015, menjadi sekitar 1,93% pada tahun 2019 dan pada tahun 2020 diturunkan lagi menjadi 1,76%," katanya.
"Sejalan dengan itu, defisit keseimbangan primer juga dipersempit dari Rp 142,5 triliun pada tahun 2015, menjadi sekitar Rp 34,7 triliun pada tahun 2019, dan diupayakan lebih rendah lagi menjadi Rp 12,0 triliun pada tahun 2020," imbuh mantan Wali Kota Solo tersebut.
(detikcom/Rd)
