Berkunjung ke Alwashliyah Sumut, AJD:Ayo Bangun Gerakan Masif Masyarakat Atasi Covid-19

Medan,DP News

Mantan Ketua PB Nahdlatul Ulama periode 1999-2009, Dr. H. Andi Jamaro Dulung atau yang lebih akrab disapa AJD melakukan kunjungan ke Sumatera Utara. Dalam kesempatan ini, AJD mengunjungi Alwashliyah Sumatera Utara Building yang disambut hangat Ketua PW Alwashliyah, Dr. H. Syekh Dedi Iskandar Batubara yang juga merupakan anggota DPD RI. 

“Putra Makasar yang memiliki aktivitas tinggi di ibukota saat ini sedang berkunjung ke Tanah Deli dan menyempatkan waktu mengunjungi kami, warga Alwashliyah”, sambut Dedi

“Saya senang sekali, sore hari ini mendapat kunjungan dari tokoh politik nasional. Saya kira Bang Andi ini adalah tokoh Indonesia Timur yang barangkali satu dari sekian anak Indonesia yg Allah berikan pernah menjadi ketua PBNU, juga dua periode menjabat sebagai anggota DPR RI. Pengalaman dan kiprah beliau itulah yang saya rasa akhirnya membawa beliau kepada literatur-literatur organisasi kemasyarakatan, termasuk salah satunya Alwashliyah.”tambah AJD.

“Belum sah kunjungan saya ke Medan ini, jika belum mampir ke Pasak nya Sumatera Utara, yaitu Alwashliyah. Sejak kecil, saya sudah sering membaca literatur terkait institusi penyebar islam, salah satu yang mengesankan saya adalah Alwashliyah. Menurut saya, NU dan Alwashliyah bedanya sangat tipis, karena kita ini sama-sama muridnya Imam Syafii.” ujar AJD

“NU dan Alwashliyah jika bersanding dalam beberapa hal, insyaAllah problematika di Sumut ini akan selesai. Saya pernah membaca bahwa tahun 1930-an itu, Alwashliyah dan NU dipimpin oleh kakak-adik bermarga Lubis. Nah, rasa kedekatan itu yang harus tetap terjaga”katanya

Ditengah mewabahnya covid-19, AJD mengungkapkan ada beberapa hal yang menjadi perhatiannya dalam penanganan covid-19 ini. Menurutnya pemanfaatan mesjid yang terbuka selama 24 jam bisa sangat efektif dijadikan sebagai pusat komando lapangan penanganan Covid-19.

“Pemerintah saat ini telah berbuat banyak, menurut ukuran saya sudah maksimal. Ketika Covid mendunia, masing-masing negara memiliki cara dan metodologi masing-masing dalam menangani wabah ini. Jika belum selesai sampai hari ini, kita tidak boleh menyalahkan pemerintah, karena memang ini peristiwa baru sehingga referensi penyelesaian pun masih sangat minim” jelasnya

Selanjutnya menurut AJD, tidak terlibatnya masyarakat dalam penyelesaian covid ini secara masif merupakan langkah yang keliru. Semestinya, mesjid dijadikan pusat komando dalam menyelesaikan masalah covid-19. 

“Mesjid itu lengkap sekali, ada pelataran yg bisa dijadikan tempat berolahraga, ada MCK, ada takmir mesjid yang jumlahnya tidak kurang dari 20 orang yang amanah dan berwibawa, yang perintahnya ditaati oleh ummat”jelasnya.

“Ada 820 ribu mesjid dan mushola di Indonesia, jika digabung dengan rumah ibadah lainnya maka berjumlah 1 juta. Artinya, 1 rumah ibadah itu menangani 270 orang dengan rentang kendali yang sangat singkat.” Tambahnya

“Ayo bangun gerakan masif masyarakat, jangan gerakan gugus saja. Kita tidak boleh membiarkan pemerintah repot sendiri. Karena mesjid itu penyelesaian masalah, bukan sumber masalah”pungkasnya.(rel/rd)