Dua menteri Kabinet Kerja Jokowi sedang memasuki areal acara disambut
oleh para petinggi Kota Batam.(Foto:Indralis)
Batam,DP News
Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menhub Budi Karya hadiri peletakan
batu pertama perluasan pembangunan hangar pesawat masih sangat menjanjikan di
Indonesia. Hal itu pula yang mendorong Lion Air Group dan GMF Aero Asia Tbk
membangun industri maintenance repair and overhaul (MRO) ini di Batam.
Kawasan Bandara Hang Nadim Batam lagi-lagi menjadi pilihannya, menyusul
tahap satu dan dua yang sudah lebih dulu beroperasi. Joint venture kedua
perusahaan ini diwujudkan dengan penandatangan kesepakatan dan peletakan batu
pertama pembangunan MRO, Kamis, 15 Agustus 2019 sore berjalan dengan lancar.
Menteri Perekonomian Darmin Nasution mengapresiasi pembangunan industri
perawatan dan perbaikan pesawat terbang oleh Lion Air Group dan GMF Aeroasia
di Batam. Darmin menyambut baik karena industri hight technology ini berskala
regional.
“Rencana ini sudah digagas sejak lima tahun lalu. Saya sampaikan, kalau
hanya skala lokal (nasional) nggak usah. Harus punya nyali bangun yang
berskala (mencakup negara-negara kawasan) regional,” ungkap Darmin, saat menyampaikan
sambutannya, di acara Kesepakatan Kerjasama dan Peletakan Batu Pertama
Pembangunan Hanggar Tahap III JV (BAT-GMF), di Hang Nadim Batam, Kamis (15/8)
sore.
Peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Menteri Menko Perekonomian Daermin Nasution dan Menteri Perhubungan Budi Karya sedang melakukan peletakan batu pertama untuk dibangun hanggar Pesawat yang berkapisitas 8 pesawat sebagai tempat distribusi perbengkelan pesawat.(Foto:Indralis)
Darmin mengatakan, pembangunan MRO ini akan sangat membantu pengembangan
industri aviasi di Tanah Air. Dengan hadirnya MRO di Batam, pesawat-pesawat
komersil di Indonesia tak perlu lagi berbondong-bondong melakukan perbaikan
dan perawatan pesawat di luar negeri.
“Pembangunan ini memberikan banyak keuntungan. Kita bisa menghemat
(menekan) devisa ke luar negeri, memperkuat industri MRO dalam negeri, dan
mampu menyerap ribuan tenaga kerja baru,” ujarnya. “Untuk mendukung kesiapan
SDM, pemerintah mendukung sepenuhnya pendidikan vokasi untuk melahirkan
tenaga-tenaga ahli di bidang MRO ini,” ungkapnya.
Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, alasan Lion
Group berinvestasi membangun hangar ini karena market MRO di Indonesia masih
sangat potensial. Prospek ke depan, ada sekitar 700 pesawat domestik yang
menjadi target market MRO.
“Alasan lain mengapa kami membangun MRO di Batam, selain bisa menghemat
devisa, kami juga mengantisipasi prospek pertumbuhan armada pesawat di masa
mendatang,” ujarnya. Kenapa Batam, sambung Edward, karena dari sisi jaringan
domestik, Batam sangat dekat dengan Singapura.
Sehingga memudahkan dalam aktivitas pengiriman kargo dari Singapura.
“Alasan lain yakni Batam memiliki run way (lintasan bandara) yang cukup
panjang sekitar 4.000 meter,” ujarnya. Hangar ini berdiri di atas lahan
sekitar 56 Ha dan mampu menampung delapan pesawat.
Keistimewaan lainnya, sambung Edward, penggunaaan lahan di Batam bisa
disewa selama 50 tahun, yang tadinya hanya 30 tahun dan bisa diperpanjang
lagi. “Ini juga yang menarik kami untuk investasi di Batam. Kami berterima
kasih kepada BP Batam,” ujarnya.
Direktur GMF AeroAsia, Tazar Marta Kurniawan, menambahkan, penyatuan
pembangunan MRO ini sangat efektif dalam menekan biaya, terutama devisa yang
selama ini dikeluarkan GMF AeroAsia. Dengan hadirnya MRO ini, ke depan segala
kegiatan perawatan dan perbaikan pesawat bisa dilakukan di dalam negeri.
“Ini investasi pertama kami membangun hangar di Batam. Ke depan kami akan
membangun di Kualanamu, Medan, dan di Bintan, Provinsi Kepri,” ujarnya. Tazar
menilai Kepri sangat strategis karena dekat dengan negara-negara di kawasan
regional. “Ini merupakan pengembangan industri MRO yang dilakukan GMF seiring
perkembangan industri aviasi kita dalam negeri,” ujarnya.
Hadir dalam acara kesepakatan kerja sama dan peletakan batu pertama MRO
Tahap III ini, yakni; Menteri Perhubungan Budi Karya, Sekretaris Menko
Perekonomian Susiwijono, Kepala BP Batam Edy Putra Irawadi, Dirut Batam Aero
Teknik I Nyoman Rai Pering Santaya, Plt Gubernur Kepri diwakili Asisten
Bidang Pemerintahan Provinsi Kepri Syamsul Bahrum.
Juga hadir Deputi III BP Batam Dwianto Eko Winaryo, Kapolda Kepri
diwakili, Danlantamal IV Tanjungpinang, Kapolresta Barelang, dan Forkompimda
se-Provinsi Kepulauan Riau.(IN)
|
|
Perluasan Hanggar Berkapasitas 8 Pesawat di Bandara Hang Nadim Batam Dimulai
DP News
16 Agustus 2019
| | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | |

