![]() |
Foto: Kadis Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumut Heri Wahyudi Marpaung Saat Paparan Progres PSD di lantai 1 Kantor Gubernur Sumut,Jumat (16/10) |
Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) sebagai kawasan konservasi diluar kawasan hutan seluas 14 Ha bakal dibangun di Kwala Bekala.Kawasan tersebut akan menjadi ekologi baru sekaligus ruang pelestarian tanaman endemik khas Sumatera Utara.
Hal tersebut disampaikan Kadis LHK Sumut Heri Wagyudi Marpaung melalui Sekretaris Dinas LHK Sumut Ari Harahap,Jumat *16/10) dalam temu pers dengan wartawan di Kantor Gubsu.
Pembangunan Taman Kehati merupakan salah satu program strategis daerah yang memanfaatkan aset milik Universitas Sumatera Utara (USU) di Desa Durin Tunggal, Kecamatan Pancurbatu, kawasan Fakultas Kehutanan USU, Kwala Bekala.
Dijelaskannya, program tersebut dibangun di luar kawasan hutan tanpa memerlukan biaya pembebasan lahan karena memanfaatkan aset milik USU.
Pembangunan lahan konservasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aset milik USU yang nantinya akan berstatus dipinjam pakaikan atau dihibahkan kepada Pemprov Sumut.
“Saat ini penetapan lokasi telah selesai dan proses permohonan pengalihan aset sedang berjalan. Langkah berikutnya meliputi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan qqq(AMDAL) penetapan spesies, penyusunan detail engineering design (DED), hingga pengajuan perizinan kepada Kementerian Lingkungan qHidup,” kata Ari.
Ari mengatakan, pembangunan qinfrastruktur dan vegetasi ditargetkan selesai pada 2029. Namun, Pemprov Sumut akan berupaya melakukan soft launching pada 2027 apabila target action plan pada 2026 dapat diselesaikan lebih awal.
“Berbeda dengan kawasan konservasi konvensional yang sudah ada secara alami seperti Taman Hutan Raya (Tahura), Taman Kehati merupakan ekologi baru yang dibangun pada tapak lahan yang sebelumnya kurang produktif atau berupa arboretum di luar kawasan hutan,” ujarnya.
Fokus utama vegetasi di Taman Kehati adalah penanaman berbagai jenis tanaman endemik khas Sumatera Utara. Kawasan tersebut juga dirancang tidak hanya sebagai tempat pelestarian tumbuhan, tetapi sekaligus mendukung keberadaan satwa untuk menciptakan ekosistem baru yang seimbang.Rumapea/Redaksi
