Nasi Kucing Ala Tanjungbalai Rp3.000,Pejabat Pun Syorr Nikmatnya.....

Foto: Para Pengunjung Sedang Menikmati Nasi Kucing Ala Tanjungbalai/ZN

Asahan,DP News

Mau makan enak,cukup Rp3.000.Itulah nasi kucing ala Tanjungbalai,yang dibungkus daun pisang dan tidak pakai bahan penyedap dicampur ikan laut,udang dan teri sambal.

Kota Tanjungbalai tidak hanya terkenal dengan kota kerang.Ternyata ada kulinernya yang unik dan khas.Wajar jika berkunjung ke kota kerang ini rasanya belum lengkap kalau belum menikmati nasi kucing Rp3.000.

Uniknya, nasi kucing yang dibungkus dengan daun pisang ini merupakan kuliner Tanjungbalai -Asahan sangat digemari dari kalangan pejabat, masyarakat bahkan luar daerah.Nasi kucing ini terjual per harinya rata-rata 300 -600 bungkus, kata Yuni, cucu generasi ketiga dari Almarhummah Syaiah, saat ditemui di warung nasi nya di Jalan Julius Usman, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan.

Wartawan DP News Zulham Nainggolan melaporkan,Sabtu(16/10) bahwa usaha nasi kucing ini katanya digeluti secara turun menurun sejak 1974. Harga nasi kucing ini per bungkusnya Rp 3000.Biasanya orang-orang menyebutnya nasi kucing.Sebenarnya nasi itu adalah nasi lemak dengan ukuran porsi yang sangat kecil dan dibungkus dengan daun pisang sehingga terasa aroma daun pisangnya.

Berawal nasi berukuran mungil ini adalah ide almarhumah Saiyah. Ketika itu, almarhumah Syaiah menjualnya dengan harga Rp 150 Saat ini usaha nasi lemak yang disebut nasi kucing itu tetap di geluti Yuni. Nasi kucing yang ia jual tidak menggunakan penyedap. Resep yang digunakan Yuni untuk memasak nasi kucing itu adalah garam, santan kelapa dan daun pandan.

Harga nasi kucing dijual Rp3.000. Di dalam nasi kucing tersebut ada tiga jenis lauknya.Ada ikan laut sambal ukuran kecil, udang sambal dan ikan teri sambal.Omset penjualan nasi kucing ini luar biasa,  dari 300 hingga 600 per harinya.Warung ini buka dari jam 12  siang hingga pukul 22.00 WIB.

”60 persen pelanggan kami dari luar kota Tanjungbalai. Kebanyakan warga pribumi. Sering juga pejabat datang dan makan disini. Terkadang pejabat luar kota, seperti Bupati Labura, Bupati Asahan juga pernah. Bahkan orang dari Medan dan Jakarta pun datang kesini makan nasi kucing,” katanya.

Dikatakan Yuni, biasanya penjualan nasi kucing di hari biasa dengan hari libur berbeda hingga 2 kali lipat. “Omset kami dihari biasa terjual sebanyak 300 porsi, kalau hari Minggu atau hari libur bisa mencapai 600 porsi kadang masih kurang. Sering juga pelanggan kami kecewa kalau datang hari libur," terangnya.

Bukan hanya itu, banyak juga pelanggan nasi kucing dari luar kota memesan hingga 600 porsi dengan sistem paket. 

“Terkadang ada juga yang pesan sampai 600 porsi dikirim ke Medan. Apalagi kalau hari raya Imlek dan Cenbeng, omsetnya luar biasa,” kata Yuni.

“Sebenarnya nama nasi aslinya adalah nasi lemak Kamal.Tapi karena porsinya kecil, pelanggan kami menamakannya nasi kucing, ada juga yang mengatakan kalau nasi kami ini adalah nasi perang,” ucapnya.

Selain nasi kucing, Yuni juga menyediakan kerang rebus sambal kacang nenas dengan harga jual Rp 12 ribu per porsinya.

Sementara itu, diungkapkan salah satu pengunjung asal Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera, nasi kucing yang mempunyai cir khas tanda sering dikunjunginya.

Sudah menjadi kebiasaan kalau berkunjung ke Kota Tanjungbalai saya makan nasi kucing, ucap Bayu.

Dia menyebut, pertama kalinya dia bersama keluarga menikmati nasi kucing saat berkunjung ke warung Yuni.

”Aku tau kemari dibawa abang dan saat itu menjadi kebiasaan. Asal berkunjung ke Tanjungbalai pasti singgah ke warung Yuni makan nasi kucing,” kata Bayu.(ZN)